BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Rabu, 06 Mei 2009

Pentingnya mengenal SEJARAH

Seorang rekan Bernama Edhie Kelana, menyatakan dalam sebuah postingan kalau yang terpenting dilakukan oleh anggota forum ini adalah memberi pencerahan pada masyarakat, saya sangat setuju dengan pendapat saudara ini dan tulisan di bawah ini adalah balasan saya atas postingan beliau.

Tepat sekali Edhie, memang itulah tujuan utama kita mendirikan Forum
ini, DEBAT TERBUKA dengan pendukung ALA hanyalah sasaran jangka pendek
kita, tujuan jangka panjang kita tepat seperti yang kamu gambarkan
PENCERAHAN, apa yang harus dicerahkan?.

Saya pikir yang pertama harus dicerahkan adalah sperri ide tulisan
Serinente Fauzan Azima, "KONSEP DIRI" masyarakat Aceh Tengah dan
Bener Meriah harus tahu siapa diri mereka yang sebenarnya.

Ide-ide ALA bisa membesar seperti ini adalah karena masyarakat kita
tidak mengenal siapa dirinya, KONSEP DIRI masyarakat kita sangat
rendah, yang GAYO tidak lagi bangga mengakui kegayoannya, malah bangga
menjadi imitasi budaya lain, sebuah tulisan Adrien tentang orang Gayo
di Bali yang saya baca di milis ini saya pikir cukup menjelaskan

persoalan yang dialami oleh masyarakat kita, yaitu mengidap INFERIOR
COMPLEX.

Kesadaran orang Gayo terisolasi dari sejarahnya, Orang Gayo tidak lagi
merasa diri mereka adalah PEWARIS dari suku kecil yang perkasa, yang
orang Jawa juga demikian, mereka tidak lagi sadar bahwa mereka Jawa
yang ada di Bumi Gayo ini bukanlah Jawa biasa, tapi mereka adalah
keturunan para Jawa pemberani yang jauh dari mental ABDI DALEM yang
kebanggaan tertingginya adalah meletakkan kepala di lantai untuk
diinjak-injak tuannya si PRIYAYI FEODAL.

Untuk menunjukkan ketertundukan pada Tuannya para Jawa bermental ABDI
DALEM ini dalam berbicarapun kepada tuannya tidak menggunakan bahasa
biasa, melainkan menggunakan bahasa KROMO, semakin baik bahasa
kromonya artinya si ABDI DALEM ini semakin rendah di mata tuannya, dan
inilah yang sulit diterima LOGIKA GAYO kita, semakin rendah dirinya
dihadapan tuannya maka semakin banggalah si Abdi dalem ini.

Lihatlah betapa berbedanya para Jawa bermental Abdi Dalem ini dengan
saudara-saudara kita suku Jawa di Tanoh Gayo, karakter Jawa di Tanoh
Gayo ini sudah sangat mirip dengan kita, Egaliter dan tanpa strata,
dalam berbicarapun saudara-saudara kita di Tanoh Gayo ini sudah
seperti kita tanpa ada strata bahasa macam di Pulau Jawa: ngako,
kromo, kratonan, dan sebagainya.

Untuk membuktikan kata-kata saya, cobalah anda bertanya pada salah
seorang saudara Jawa kita di Damaran, ucapkan sebuah kalimat sederhana
dalam bahasa jawa kromo, ASMANIPUN SINTEN?...saya jamin saudara kita
itu akan kebingungan, bahasa mana pula ini pikirnya karena kalimat
sama dalam bahasa Jawa yang dia kenal adalah JENENGMU SOPO?

Dalam strata sosialpun begitu, saudara Jawa kita yang hidup di Tanoh
Gayo tidak mengenal pembagian kelas yang ketat, di tengah Masyarakat
Jawa di Bumi Gayo tidak ada RADEN, NINGRAT, RAJA, PRIYAYI... Semuanya
SAMA. semuanya RAKYATJELATA.

Saudara-saudara Jawa kita di Tanoh Gayo, telah terisolasi dari Tanah
Jawa selama ratusan tahun. Mereka asyik sendiri dengan dunianya, dalam
keseharian bersinggungan dengan kita, tanpa mereka sadari karakter
Gayo kitapun telah menular kepada mereka, karena ketika karakter nenek
moyang mereka yang memang dasarnya antitesis dari mental abdi dalem
langsung cocok ketika bertemu dengan karakter gayo yang egaliter.

Sehingga , ketika kita menyaksikan Jawa-Jawa terhormat keturunan dari
jawa-jawa pemberani, memakai Blangkon, berbicara dalam bahasa KROMO
menundukkan kepala lalu bersama Aman Fida berkata dengan Takzim "kulo
iki gelem pemekaran" di hadapan para priyayi Feodal yang dulu sangat
dibenci oleh Kakek moyang mereka. Itu adalah sebuah pemandangan
ARTIFISIAL yang sangat TIDAK ALAMI. Adegan menjijikkan yang kita
saksikan itu adalah adegan sinetron murahan yang kualitasnya lebih
rendah dari sinetron bikinan Punjabi's Family.

Ketidak sadaran akan sejarah diri inilah yang menjadikan Orang Gayo
dan dan Orang JAWA-GAYO, bisa begitu mudah diperalat oleh
Limbah-limbah budaya semacam Iwan Gayo dan Rahmat Salam, sehingga
Gayo-Gayo keturunan manusia-manusia terhormat itu mau merendahkan
dirinya bertingkah seperti seorang BUDAK menghadap PRIYAYI FEODAL di
Tanah Jawa sana, ketidak sadaran akan sejarah diri ini pula yang
menjadikan keturunan Jawa-Jawa pemberani ini malah mengkhianati
semangat kakek moyangnya yang sangat anti PRIYAYI FEODAL itu.

Akibat ketidak sadaran akan sejarah inilah yang membuat TUKIRAN seolah
amnesia, sehingga dengan berani melecehkan kita orang GAYO sahabatnya
ini, malah melacurkan diri Pada Priyayi Feodal yang sangat dibenci
kakek moyangnya dulu.

KESADARAN SEJARAH...inilah yang harus kita sampaikan kepada
saudara-saudara kita yang kurang beruntung di Tanoh Gayo sana.

Edhie, saya tidak tahu persis posisi kamu di mana, tapi kalau kamu
sendiri memang berposisi di Takengon kenapa harus menunggu Subayu yang
bergerak?. Jangan tunggu lagi, sebarkanlah CAHAYA KEBENARAN yang kita
ketahui ini kepada setiap manusia yang hidup di TANOH TEMBUNI.

0 komentar: